Tuesday, September 16, 2014

keserabutan yang serabut

ada keserabutan yang masih membelenggu jiwa kita

aku seperti musim luruh, lusuh dan tiada bermaya.


kamu, berbeda.

seperti musim bunga, kamu berseri menarik bertenaga. 


aku, mentari tika kemarau.

sedangkan, kamu, mentari kala tengkujuh.

begitu kita berbeda,
lalu kau menyambut kemerdekaan itu dengan definisi yang lain,
sedang tafsiran aku itu tentang merdeka itu samar.

aku musykil berbaur keliru

perlukah kita menampakkan kegembiraan dengan berkinja-kinja,
kita bergembira , ketawa dan berpesta,
sedangkan kita semakin kehilangannya...


kau melihat aku sebagai seorang yang sinis, 

dan kerap membawa jiwa melankolik,
namun,
 kau harus tahu bahawa aku bukan petunia,
aku hanya perempuan marhaen yang hidup dalam dunia vintajnya

No comments:

Post a Comment