Saturday, December 6, 2014

duakosongsatuempat yang kian pudar

aku mula mengenal Chairil Anwar dan sajak beliau ketika filem "Cinta" itu muncul dan itu 12 tahun yang lampau. dan aku masih sama seperti 12 tahun yang lampau. masih. yang berbeza cuma semakin tua ( sedikit )



aku lebih memilih untuk menghadam puisi tanah seberang waktu revolusi, dan kadang kala aku akan menguis-nguis karya sebelum dan awal merdeka di bumi yang sedang aku pijak ini.maaf. masih juga aku katakan aku lebih suka akan karya dari tanah seberang kerna ia punya jiwa, jiwa yang aku perlukan untuk menampung dan menggantikan jiwa-jiwa polka dots aku yang telah tersejat ke udara... ...

untuk duakosongsatuempat  yang kian pudar, nyata kau seperti tahun tahun yang sudah berlalu pergi denganpantas, bahkan semakin laju. aku ini hanya manusia jalang seperti dalam karya Chairil Anwar. pada aku ini tidak ada kemewahan dan kegembiraan yang ada cuma kesdihan yang melankolik yang hanya menjerut semangat kamu yang membacanya.

Detik tidak pernah melangkah mundur , 
tapi kertas putih itu tetap ada.waktu tidak pernah berjalan mundur, 
dan hari tidak pernah terulang.tetapi, 
pagi selalu menawarkan cerita yang baru.untuk semua pertanyaan yang belum sempat terjawab….[ CINTA : 2014 ]

3 comments:

  1. selera nya sama ya :
    ini juga penyajak kesukaan ku - sapardi djoko damono , fahd djibran
    mun nak much younger - dewi lestari.

    ReplyDelete
  2. ya... senarai pemuisi dari tanah seberang begitu banyak sedangkan di tanah air sendiri cuma sekelumit kecil...
    aku mahu baca puisi yang bernyawa dan yang mampu memberikan nafas....

    ReplyDelete
  3. WS Rendra juak. Sitok bukan jak sidak sikit tp, platform daknya sik diketengahkan.
    tanahair kita tok terlalu membentuk kita menjadi orang industri hinggakan kita membesar dan percaya yang sik akan kita dapat hidup mun sik jadi seorang teknikal.
    sepanjang jalan ya, kita korbankan nilai nilai halus yang memberi jiwa.

    pendapat ku lah

    ReplyDelete