Sunday, December 7, 2014

meditasi monsun

monsun tahun ini aku kembali menulis lagi, mencuba untuk mengangkat pena yang usang dan rapuh dimamah anai-anai kemalasan.

dan,
monsun tahun ini aku kembali kerana jiwa-jiwa polka dots aku yang tersejat ke udara dikembalikan semula oleh rintis-rintis hujan yang turun ke muka bumi. namun, mungkin, tatkala monsun ini berlalu pergi, dan kemarau menjengah datang, aku tidak akan, tidak mampu untuk menulis. kemungkinan yang mungkin.

dan,
monsun tahun ini menyaksikan hampir setiap hari hujan turun menggila, entah apa yang disedihkan sehingga ia meratap tangis hampir setiap hari. pagi yang cerah tiba-tiba akan menampakkan wajah masam dan muramnya, atau setelah ia menangis menggila, tiba-tiba senyum tertawa menampakkan sinar mentari yang menggigit ubun-ubun kepalaku. sungguh, sukar diramal.

ya, monsun ini sungguh melankolik dalam tahun yang mendukacitakan. sedang aku hanya perempuan marhaen separa muda yang terperangkap dalam polaroid usang, yang hanya mampu melihat dan mendengar tentang kapal terbang yang hilang, tentang kapal yang tenggelam, tentang  kapal terbang yang terhempas, tentang kisah-kisah duka yang kerap menyeruak kantung jiwaku.

kekeliruan yang berselirat, yang kejam itu dunia atau manusia ?

No comments:

Post a Comment